Saya hidup di lingkungan keluarga yang beradat batak. Salah satu suku yang ada di Indonesia. Kedua orangtua saya pun berasal dari keluarga batak. Jadi darah yang mengalir dalam tubuh saya adalah darah yang kental dengan suku batak. Ayah saya bernama Marsedi Situmorang dan Ibu saya bernama Taruly Radiana Simarmata. Ayah saya bekerja di salah satu instansi Pemerintah yang selalu dikata orang merupakan intansi yang selalu “dihantui” dengan keinganan Korupsi dan Gaji yang sangat besar, yaitu Departemen Keuangan. Namun, perkataan orang itu tidak berlaku dalam keluarga saya. Keluarga saya hidup dengan kesederhanaan. Tidak suka dengan hidup yang hedonisme. Walaupun kata orang gaji besar, saya belum pernah membuktikan apakah gaji ayah saya besar atau tidak. Yang saya tahu, ayah saya adalah sosok yang pekerja keras, walaupun “kata ayah saya, gajinya tidak terlalu besar, hanya cukup untuk makan dan membiayai sekolah saya dan adik – adik saya”, ayah saya terus berjuang untuk bekerja. Tidak hanya bekerja di Departemen Keuangan, ayah saya juga mengajar di “STAN”. Kata beliau lumayan untuk menambah penghasilan, lebih baik bekerja banyak – banyak dibandingkan harus korupsi. Kata – kata yang bijak. Selain ayah saya, ada ibu yang juga bekerja di instansi pemerintah, yaitu “Departemen Pertanian”. Mereka berdua berjuang utnuk membiayai kehidupan maupun kebutuhan saya dan adik – adik saya sehari – hari. Saya mempunyai 2 adik, yaitu adik perempuan yang bernama Maulina Febrianti Situmorang dan adik laki – laki yang bernama Andreas William Togar Nathanael Situmorang. Itulah sekilas tentang keluarga saya. Dan saya sudah memperkenalkan mereka. Namun, saya belum memperkenalkan diri saya sendiri. Nama saya adalah Claudia Paskah Ria Situmorang. Saya lahir di Medan pada tanggal 31 bulan Maret tahun 1991. Saya biasanya dipanggil paskah. Banyak juga yang memanggil saya dengan nama Claudia. Namun, saya lebih suka dipanggil paskah. Karena bukan hanya dari arti yang luar biasa indahnya tetapi kata “Paskah” terdengar lebih unik dan jarang di pakai oleh orang lain. Nama paskah berasal dari hari besar perayaan umat Kristen dan Umat Khatolik yang mempunyai arti “ Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang telah rela disalibkan demi Umat-Nya”. Selain itu juga saya terlahir pada hari minggu yang kebetulan Tetapi apabila ada orang yang ingin memanggil saya Claudia juga tidak apa – apa. Karena nama Claudia mengandung makna “Bunga”. Sedangkan ria itu artinya bergembira dan situmorang adalah suatu marga yang diambil dari leluhur ayah saya. Sehingga arti dari keseluruhan nama saya adalah bunga yang terlahirkan dengan rasa kegembiraan atas perayaan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Orang tua berkata kepada saya bahwa saya harus menjadi orang yang selalu ceria dan penuh kegembiraan serta saya harus menjadi orang yang sederhana seperti Tuhan Yesus Kristus dan mau rela berkorban demi kebaikan. Selain itu juga, saya harus mempunyai sifat – sifat yang indah seperti bunga. Hobi saya yaitu berenang, main basket, membaca buku biografi, membaca novel dan komik, berkuliner, shopping. Saya mempunyai fisik yang tidak terlalu bagus dan indah – indah sekali. Saya berbadan gemuk, rambut panjang, tinggi saya 168cm, mempunyai alis agak tebal, berlesung pipi dua – duanya. Saya paling tidak bisa untuk mendeskripsikan sifat saya. Tetapi orang berkata bahwa saya adalah orang yang ceria, tertawanya lepas, lucu, penggembira kondisi yang lagi tegang, “enak” diajak curhat dan berbicara, sederhana, pintar, sensitif, perasa, dan lain – lain. Dulu kecil, saya mempunyai cita – cita sebagai dokter atau sebagai presiden. Cita – cita saya sebagai dokter sudah tidak mungkin untuk diraih lagi. Karena saya sedang meraih sarjana saya di Fakultas Ekonomi dengan jurusan akuntansi di Universitas Gunadarma. Sehingga didalam otak dan rasa keinginan saya, saya bercita – cita untuk menjadi akuntan yang professional dan apabila itu terjadi saya sebagai manusia yang tidak pernah puas, ingin menjadi Menteri Keuangan atau mungkin ingin menjadi presiden. Mungkin, cita – cita saya terlalu tinggi. Namun, saya berjuang untuk meraihnya. Karena saya merasa kasihan atau iba dengan kondisi negara saya yaitu Indonesia yang begitu terpuruk dengan Kemiskinan baik Kemiskinan moral maupun kemiskinan segala aspek. Saya awalnya bersekolah di medan. TK sampai SD kelas 3 saya di Medan. Nama TK saya di medan yaitu “ TK Budi Murni” dan SD saya di SD “Bunda Mulia”. Saya di SD ini hanya sampai kelas 3 saja. Karena SD kelas 4 sampai kuliah saya ada dijakarta. Kenapa demikian? Dikarekan ayah saya dipindahtugaskan ke Jakarta. SD kelas 4 saya ada di SD STRADA WIYATASANA JAKARTA, letaknya di daerah Pejaten Jakarta Selatan. Sedangkan SMP saya ada di SMP STRADA MARGA MULIA, letaknya serupa dengan SD saya. Dan saya lulusan SMA 49 JAKARTA. Dulu saat saya di SMA, Saya senang sekali berorganisasi. Ikut OSIS-MPK, Kepengurusan Rohkris – Rohkat, Kepengurusan di Gereja. Saya dulu ikut ekstrakurikuler di SMA yaitu PMR ( Palang Merah Remaja), tari dance modern dan tradisional modern. Waktu di SMA saya lebih suka mengeksplore diri saya dibandingkan waktu saya di SD maupun waktu saya di SMP. Waktu saya di SMP tak mengeksplore diri saya karena saya mempunyai pengalaman yang buruk sekali. Saya bersekolah di SMP yang bermayoritas khatolik dan siswa/siswinya dari kalangan orang yang sangat berada atau “Kaya Raya”. SMP saya adalah SMP Khatolik yang sangat ketat peraturan dan kedisplinannya. Dengan demikian, banyak orangtua yang “Kaya Raya” itu untuk menyekolahkan anak – anaknya. Sehingga ada banyak terjadi kesenjangan social disana. Saya terlahir menjadi orang yang harus sederhana. Dan kebetulan saya adalah anak yang baru saja pindah dari kota yang dianggap orang – orang “disana” adalah desa. Saya merasa minder bahkan kaget dengan sistem mereka (murid – murid seangkatan saya) yang terlalu berkelompok dan merasa diri mereka adalah paling hebat dan berkuasa. Maksud berkelompok disini adalah mereka membuat kotak – kotak dalam sistem pergaulan disana. Ada kelompok orang kaya, ada kelompok orang pintar, ada kelompok orang yang “gaul”, ada kelompok orang – orang yang sering menindas orang, ada kelompok orang yang tidak pernah bergaul, dan saya tidak masuk ke semua kelompok yang saya sebutkan. Namun malah itu yang membuat saya sering dibodohi sama mereka. Waktu saya kelas 2 SMP. Saya mempunyai teman yang bernama Okky. Dia berkata kepada saya bahwa saya harus memberitahu kepada guru biologi saya, siapa saja yang mencontek pada saat ulangan biologi berlangsung saat itu. Dia pun berkata kepada saya, apabila saya melakukan hal itu, saya akan diberi nilai lebih pada guru biologi saya. Dan saat itu, saya yang tidak mengerti apa – apa. Sehingga saya mengikuti omongannya. Kebetulan saja. Okky adalah teman baik saya saat itu. Dari SD sampai SMP kelas 1 saya jarang mmpunyai teman. Karena saya merasa bahwa saya tidak termasuk golongan mereka dan saya adalah anak pindahan. Dan akhirnya, saya pun memberikan kepada guru saya siapa saja yang mencontek saat ujian itu. Selesai saya memberitahu. Tiba – tiba saya langsung dimarahi dan dimaki – maki sama teman saya sekelas. Kata mereka bahwa saya adalah orang yang munafik. Saya merasa bingung, ada apa yang terjadi saat itu. Rupanya saya sedang dikerjain sama okky. Dan akhirnya saya dibenci sama satu angkatan saya di SMP selama saya bersekolah disana. Tidak ada yang ingin berteman dengan saya. Bahkan banyak yang memanfaatkan saya. Mereka ingin berteman dengan saya karena ada maunya, ada imbalannya. Saat saya susah, mereka tidak mau hadir bersama dengan saya. Saya selalu dimusuhi dengan satu angkatan saya. Tidak ada yang mau belajar kelompok dengan saya. Bahkan saya sampai dijahili dengan teman – teman satu angkatan saya. Kursi saya waktu kelas 3 SMA, pernah dilumuri lem sama teman sekelas saya. Wajah saya juga pernah dilempari dengan serpih – serpih kecil kertas. Foto saya juga pernah dipasang di madding sekolah dengan tulisan “nonton paskah dengan Rp 5.000”. Waktu saya jalan pernah disandung sama teman sekelas saya dengan sengaja. Saya sampai saat ini merasa bingung dan heran. Dan saya sering bertanya – tanya pada diri saya, kira – kira apa salah saya, sampai mereka berbuat seperti itu. Saat – saat saya sering dijahili. Saya tidak pernah sedikit pun untuk membalas mereka. Saya hanya cukup berdoa dan tetap mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena saya selalu berpedoman pada salah satu firman Tuhan “ cintailah musuhmu, seperti kau mencintai dirimu sendiri. Dan apabila pipi kirimu ditampar, berilah pipi kananmu juga. Serta berdoalah kepada Tuhan, apabila kamu dizolimi dan dianiaya sama orang lain.” Saya selalu berpedoman pada Firman itu. Sehingga saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa dari pengalaman buruk saya. Dengan keterpurukan saya, pada pengalaman buruk, Tuhan memberi saya pengalaman yang baik. Saya pernah menang lomba saat SMA, yaitu Juara I lomba mading ( majalah dinding ) PMR sejabodetabek. Juara I Lomba Mading PMR di SMAN 60 JAKARTA, Juara II lomba Mading PMR di SMAN 79 JAKARTA, Juara II Lomba Komputer di Universitas Veteran, Juara III saat kelas 2 SMA, Juara II saat kelas 3 SMA, menjadi kakak kelas yang terkenal dan terfavorit di buku tahunan, Dan mendapatkan beasiswa masuk ke Universitas gunadarma. Semua diatas adalah pengalaman yang paling baik selama aku berumur 20 tahun ini. Hahahahaha… Pengalaman saya yang paling berkesan adalah saat saya mendapatkan piala – piala serta sertifikat atas semua yang saya raih di pengalaman baik. Semuanya luar biasa. Waktu nama saya dipanggil dan disuruh untuk mengambil piala dan sertifikat – sertifat itu rasanya tak terdefinisikan. Luar biasa rasanya. Bangga dan bahagia. Tak ada perasaan yang bisa terungkapkan saat saya menerima itu. Yang dulu saya selalu dikerjai atau dijahili dengan teman – teman saya saat di SMP. Saat di SMA saya meraih banyak piala – piala. Dan banyak yang mengenal saya. Padalah saya dulu dikenal pun tak pernah. Dan selain itu, saya bisa berkenalan dengan sahabat baru di Universitas Gunadarma. Namanya sisca. Banyak pengalaman yang paling berkesan saat bersama dengan dia. Belajar bersama, suka dan duka selalu bersama, kemana pun selalu bersama. Saya sama dia tak pernah terpisahkan. Tapi pada akhirnya dia harus meninggalkan saya saat saya sedang senang bersama dengan dia. Dia harus keluar dari kampus. Karena ada urusan penting yang harus dia selesaikan. Dia sahabat saya yang paling baik dan paling top selama saya mempunyai sahabat. Walaupun dia adalah orang yang paling ribet, paling heboh, dan paling rendah diri. Tapi banyak ilmu – ilmu kehidupan yang saya pelajari dari dia. Saya hanya bisa berdoa buat dia agar dia bahagia dan dapat menyelesaikan permasalahannya. Dengan berbagai pengalaman baik buruk maupun baik serta berkesan, saya mempunyai falsafah hidup, yaitu hargai waktu, karena waktu dapat memberikan pengalaman dan pelajaran hidup, serta waktu dapat membuat kita bisa bertemu dan berpisah dengan orang yang kita cinta dengan singkat.